Author: Jay
•07.01

 

 

           derai derita saat mata memandang senja.
                 seperti inikah ketika ranting patah dari batangnya.
                        ya... begitu juga waktu unktuk mu, tak akan kembali.
                                  tunggu, itu bukan deritamu tapi deritaku.

Author: Jay
•03.57
Pergi,,,, mungkin karena tak lagi berguna.... iya, dia ungkapkan itu pada ku, walau kata berbeda dengan makna yang sama. Setiap orang berhak mempertimbangkan dan menghitung apa yang akan dilakukan, walau aku pun tak begitu pandai berhitung. Tapi aku coba sebaik mungkin untuk berhitung, Kalkulator tercanggih di abad ini sudah aku gunakan, Tapi, hasilnya tetap sama.... Semua nilainya Besar, bahkan sangat besar, bukan Nol seperti yang kamu bayangkan......  

"Tah Berguna" itu kata uangkapan yang kau berikan untukku. Ya.. aku paham. Mungkin semua ini kau anggap tak berguna, merekapun demikian, pendapat yang sama mereka lontarkan padaku.

Pergi jauh tak akan menyelesaikan masalah, tetap teguh dengan pendirian tak juga memberikan jalan keluar. Mengahal....??? mungkin lebih baik, tapi harus tetap punya pendirian dung....  Yah... mungkin ini rung yang diberikan untuk tidak selalu dibilang Tak Berguna.
Author: kakjaya
•05.59
desir hewan malam bernada riang 
bayang mimpi bergelantungan menanti saat jatuh
kembali desir itu ku dengar berdendang
pelan-pelan melepaskan ikatan mimpiku lusuh.

mimpi
       mimpi
              mimpi
               

ku ulangi terus kata itu hingga tak berarti
kuamati huruf yang merangkai mimpi
"tak ada yang salah" kata ku
tapi mengapa mereka melakukan itu???

Ah sudahlah... tak ada waktu untuk menyalahkan
waktu pun tak menyalahkan
siapa bilang tak ada yang disalahkan?
aku kah yang menyalahkan?
Author: kakjaya
•05.58
Bagaimana?

Kapan?

Dua kata tanya itu selalu menjadi monster jahat yang menggrogoti ide-ideku. Ketika sedang asik bermain dengan indahnya rangkaian kata-kata, baris pasukan berlapiskan rasa resah selalu mendatangiku. Dengan dua senjata ampuh yang siap membenturkan kepalaku ke tembok kegelisahan. Gelisah rasanya ketika senjata itu dilontarkan pada ku.

   "Bagaimana tugas akhir mu?
   "kapan diseminarkan?

Tak jarang aku bergegas pergi meninggalkan mereka. Berlari dari masalhku. Ini tidaklah baik bagiku, bukan hanya untukku , juga untuk semua orang. Dua kata itu yang sekarang menjadi hantu tanpa wujud. Hantu yang selalu memberi ku kegelisahan.